“ Bruuk !!!” suara itu begitu nyaring. Seperti suara dari orang baru jatuh dari tempat tidur. “ Aduh . . ., lagi-lagi “ Erang seorang anak sambil mengusap-usap bokongnya. Dia pun bangun dari lantai. Matanya gatal seperti habis kemasukan satu kilogram debu. Dia berjalan lemas ke arah pintu sambil mengucek mata coklatnya dan tidak lupa berkaca. Kulitnya berwarna kuning muda yang cerah sehingga hampir putih, tinggi badannya ideal untuk anak seumurannya, serta rambut pirang panjang dan acak-acakan yang sangat mencolok. Arial. Begitu orang-orang biasa menyebutnya.
Setelah lama tak berkedip di depan kaca, ia pun mengganti piyamanya dengan baju kesukaannya. Baju itu sedikit menyerupai kemeja tapi tanpa corak dan tanpa lengan. Dia merasa baju tersebut bagus jika tidak memiliki lengan. Lalu memakai celana panjang berwarna biru muda dengan beberapa robekan disepanjang lututnyanya. Dan tak lupa mengenakan sepatu kulit hingga semata kaki dan dilipat ujungnya sehingga mata kakinya tidak tertutup sepenuhnya. Dengan malas dia melangkahkan kakinya keluar kamar, menyusiru lorong dan menuruni tangga menuju ruang makan.
Ruangan yang cukup luas. Ada tiga meja panjang terletak di tengah ruangan. Dengan banyak kursi dari kayu jati yang lumayan banyak terjejer di samping meja-meja tersebut. Sesampainya di sana, hanya ada beberapa anak yang masih makan. Mungkin dia yang terakhir datang. Dia melirik ke meja seberang. Sepanjang meja, piring kotor bekas sarapan berjejer rapih menunggu di angkut ke tempat pencucian di belakang.
Matanya mulai mencari tempat duduk yang akan ditempatinya. Dia mulai mengedarkan matanya ke penjuru meja makan dan terhenti pada seorang yang sedang menghabiskan sarapannya. Orang itu berambut hitam gelap sepanjang lehernya tapi tidak sampai menyentuh bahu seperti Arial. Dan sama berantakan dengannya. Dia lebih tinggi beberapa senti dari Arial. Dia lebih berisi dan memiliki kulit yang sedikit lebih gelap dari Arial. Dia mengenakan kemeja bercorak dengan celana panjang dan juga sepatu yang sama dengan Arial. Dengan mata yang masih setengah terbuka, dia berjalan menghampiri orang itu dan duduk di sebelahnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar